DMCA.com Protection Status

Kencan Sama SPG Cantik dan Montok

Dari sana kemudian beranjak ke posisi yang lebih lumayan. Nach, setengah tahun di receiving, aku dipindahkan ke lapangan, dalam arti di tempatkan di store. Disinilah awal perjalanan cintaku dengan yang namanya SPG.

"Kamu pesan apa say?" kataku mesra.
"Sari pesan pecel lele aja bang,"jawabnya.

Aku pun segera memesan pada yang menjual makanan. Apa aja yang mau ditambah kutambahkan aja sayuran laen biar banyakan, karena setelah makan nanti, aku juga mau makan lagi, tapi tentu makan menu yang istimewa nantinya.

Terus terang aku sangat menyukai posisi ini berhubung setiap harinya aku bisa menikmati setiap kecantikan SPG yang bertugas di swalayan ini. Singkat cerita, dari sekian banyaknya SPG yang bertugas, aku sangat tertarik dengan SPG product susu, namanya Sari. Sari berwajah bukan hanya cantik, tapi bodynya juga yahud banget.

Umurnya 19 tahun. Dengan tinggi 165, bra 34B, ditambah dengan jenjang kakinya yang putih mulus banget, maka komplitlah sudah Sari yang perfect menurut versiku. Aku mencoba mendekatkan diri dengannya, setiap hari selalu aja rapat hingga kedekatan kami semakin nyata. Tapi berhubung lokasinya di swalayan, aku juga harus menjaga image agar issuenya tidak sampai ke telinga atasanku.

Sering pada jam-jam makan aku memberinya cemilan ato makanan tambahan yang rada-rada enak dimakan dan dari sikapku itulah, timbul rasa simpati Sari terhadapku. Jumat sore itu, ku dekatin Sari seraya berkata.

"Say, pulang nanti ku antar ya," Dan Sari pun mengganguk setuju.

Bayangkan, rasanya sudah ngak sabaran menanti jam-jam pulang kerja karena di otakku sudah tersusun beberapa rencana mantap. Tak tahu kenapa belakangan ini selalu membayangkan mulusnya tubuh Sari, tak tahan pengen banget menikmatinya.

Jam yang ditunggu pun akhirnya tiba, bergegas aku turun ke basement bawah mengambil motor kesayanganku. Kutunggu Sari di pinggir jalan pas pintu keluar dari mall. Ngak lama ku liat Sari keluar bareng temannya tiga orang, dan begitu melihatku, dia pamitan duluan ama temannya di barengi canda teman-temannya yang usilin Sari. Kuberikan helm dan Sari segera melompat duduk di sadel belakang sambil berpegangan pinggangku.

"Say, kita langsung pulang atau mau jalan-jalan dulu sambil cari makan?" kataku. Itu sech hy pura2ku aja padahal uda banyak rencana di otkku ini.

Ternyata jawaban Sari bertepatan dgn keinginanku," kita jalan2 aja dulu baru ntar malaman makannya ya". Aroma wangi di tubuhnya serasa menimbulkan nafsuku, sehingga makin kupacu motorku semakin kencang. Sari memeluk ketat pinggangku sehingga menempellah buah dadanya yang kenceng padat di belakang punggungku. Celanaku makin sesak kejepit pula.^^

Sengaja aku membawanya jalan agak kepinggiran kota, biar segala rencanaku rampung. Setelah puas keliling, akhirnya sampailah kami di rumah makan yang bernuansa klasik dimana rumah makan tersebut mempunyai alun-alun seperti pondok pribadi, jadi apa yang akan kulakuin nanti lebih privacy dan tertutup dari pandangan orang karena pondoknya memang bersekat.

Karena sudah laper, kami makan dengan lahapnya sambil sekali kali kusuap nasi ke mulut Sari. Awalnya dia keliatan malu, tapi akhirnya dia tertawa geli. Selesai makan kami duduk ngobrol dan perlahan tapi pasti arah bicaraku memancing ke arah seksual sambil tanganku merangkulnya.

Perlahan kucium bibirnya, hmmm..lidahku menjelajah ke dalam dan melilit lidahnya. Sari membalas dengan panasnya, sehingga penisku makin mencuat rasanyaa. Akhhh..Sari mendesis nikmat. Semakin kuberanikan diri dengan memasukkan tanganku ke dalam bilik baju seragamnya dan kuraba payudaranya yang padat sekal.

Sari merintih nikmat merasakan belaianku pada payudaranya. Kusingkapkan BH-nya dan perlahan memelintir putingnya, ssshh..Sari makin merintih. Aku semakin tidak tahan, ku keluarkan. Penisku yang sudah mengacung tegak dengan diameter 4 panjang kbh kurang 17cm. Sari terkejut sekali ketika melihat penisku yang mengacung tegak itu.

"Gede banget punya abang, takut Sari bang, Sari belum pernah lihat yang beginan," kata Sari.
"Gpp koq say, biasa aja lagi," aku menjawab sekenanya.

Kembali kuransang Sari dengann ciumanku, perlahan ke telinga dan turun ke leher. Ku kecup pelan penuh perasaan dan Sari semakin mendesah.

"Akhhh.. bang.. sstttttt, ouugghh.." Sari semakin tidak tahan.

Perlahan kuraba pahanya yang terbuka dan segera jariku mendarat di ujung selangkanganya. CD nya masih belum kuturunkan, cuma jariku hanya mengesek belahan vaginanya. Sari mendesis lirih membuat aku semakin bergairah. Ada lendir basah mengalir merembes keluar. Sari semakin tidak tahan sehingga tangannya menggengam penisku dan mengocok ngocokkanya.

Tiba-tiba kuhentikan serangan ku sehingga membuat Sari terpana heran, nafsunya yang uda di ubun-ubun terhenti seketika.

"Ada apa bang?" tanya Sari.
"Bentar ya say jangan disini, bahaya tuch," Sari baru tersadar kalo kami masih di pondok rumah makan.
"Kita pulang aja ya bang, Sari takut kemalaman dan jujur Sari belum pernah melakukan yang sepeti tadi. Sari takut bang".
"Ok dech, kita pulang aja ya say," kataku membisik di telinganya.

Dalam hati aku merasa tanggung nech, dan ku teruskan rencanaku. Kami merapikan pakaian kami masing-masing dan berjalan keluar. Setelah menghidupkan motorku, kami melanjutkan perjalanan pulang dan jam sudah menunjukkan pukul 21.20 WIB. Di tengah perjalanan, aku berpura-pura sakit perut.

"Aduh say, sakit banget perutku habis makan tadi, aduh.. ini sepertinya ngak bisa lagi baww motor," ucapku.

Sari kebingungan melihat sikapku yang menahan sakit, padahal hanya pura-pura saja.

"Kita cari tempat istirahat bentar ya say, abang ngak tahan lagi sakit banget perutnya," alasanku.
"Ya udalah bang, kita cari tempat istirahat dulu, ntar ngak sakit lagi baru jalan," kata Sari.

Aku bersorak girang dalam hati siasatku berhasil ternyata. Kupacu motorku ke arah motel yang ngak jauh lagi lokasinya dan segera mengambil kamar.

"Kita istirahat ya say, gpp, jangan kuatir, ntar ngak sakit lagi kita segera jalan ya say," Sari hanya menganguk pelan kuatir dengan sakit ku.

Di dalam kamar aku segera merebahkan badan di tempat tidur sambil berpura-pura merintih memegang perutku, dan Sari semakin kuatir aja rasanya meliahat keadaanku. Kupanggil Sari mendekat dan kuminta dia mengelus elus perutku supaya agak reda sakitnya, dan Sari menurutinya. Enak banget pijitan Sari, sehingga mataku merem melek jadinya.

Tiba-tiba aku bangkit dan merangkul Sari. Sari terkejut sekali dan langsung ku dekap tubuhnya sambil ku cium bibirnya. Sari gelagapan sambil membalas juga dan perlahan kembali kurangsang dan kucumbu. Kubuka kancing baju Sari bagian atas dan kubelai dadanya segera. Kucium perlahan putingnya dan kusedot. Shhh..Sari mendesah nikmat.

Tanpa sadar kubuka seluruh pakaianya dan CD nya sambil terusku jilat lembut dadanya. Ku buka lebar kakinya mengangkang dan pelan-pelan kuelus lembut. Memeknya yang sudah basah dan licin lagi. Aku berkata kepadanya "abang suka bau Memeknya Sari".

Perlahan tapi pasti aku pun mengeluarkan Penisku yang lumayan besar, dan menyodor ke arah mulutnya. Dia malu-malu tapi mau menghisap penisku dengan nikmat yang tak terhingga aku pun mengatakan kepadanya kamu sangat luar biasa Sari..aahhh.. sudah puas dengan kuluman bibirnya aku pun mengelus Memeknya yang begitu putih mulus dengan bulu yang jarang-jarang dan perlahan aku masukan penisku.

Dia berkata "Sakitttttt banggggggg.." dengan penuh kasihan aku pun menggoyang pelan-pelan dulu. Sudah masuk separuh penisku baru dia tidak merasa sakit lagi dan dengan gairah yang sangat besar aku menggoyang pinggangku ke memek nya yang begitu tebal dan mulus.

"Aahhh..ahh…ohh desah Sari ketika aku menggoyang begitu cepatnya pinggangku. Sepuluh menit telah berlau aku pun mengeluarkan sperma yang begitu kental keatas pepek Sari tepat nya dibulu atas memeknya.